Pertama, kompetisi dapat dimulai dari tantangan akademik yang sehat. Misalnya melalui kuis cepat tentang materi konstitusi, debat antar kelompok mengenai isu kebangsaan, atau presentasi kreatif tentang nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan sistem poin atau penghargaan sederhana, siswa akan lebih termotivasi untuk memahami materi secara mendalam.
Kedua, menciptakan kompetisi berbasis kerja sama tim. Dalam PPKn, diskusi kelompok sangat penting. Setiap kelompok dapat diberi tugas memecahkan studi kasus tentang hak dan kewajiban warga negara. Kelompok dengan argumentasi paling logis, data paling kuat, dan penyampaian terbaik bisa mendapatkan apresiasi. Cara ini melatih tanggung jawab, solidaritas, dan kemampuan komunikasi.
Ketiga, memberikan apresiasi yang membangun. Tidak hanya kepada siswa yang nilainya tinggi, tetapi juga kepada mereka yang menunjukkan peningkatan, keberanian berpendapat, atau sikap kritis yang santun. Apresiasi kecil seperti pujian, atau pengumuman “Nilai PPKn Minggu Ini” dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa.
Selain itu, penting untuk menanamkan bahwa kompetisi di kelas PPKn bukan sekadar mengejar nilai, tetapi juga membentuk karakter. Siswa belajar bersaing secara jujur, menghargai pendapat orang lain, dan menerima perbedaan dengan sikap demokratis. Inilah praktik nyata nilai-nilai Pancasila di dalam kelas.
Dengan strategi yang tepat, kelas PPKn yang diampu oleh Pak Pri di SMAN 7 Denpasar dapat menjadi ruang belajar yang hidup, dinamis, dan penuh semangat. Kompetisi yang sehat akan melahirkan siswa yang aktif, kritis, dan siap menjadi generasi muda yang berkontribusi bagi bangsa dan negara.


