Senja di Pelataran Candi Prambanan
Lima tahun yang lalu, di pelataran Candi Prambanan, di bawah
langit yang perlahan berubah warna oleh senja, kita pernah berdiri dengan
sebuah keyakinan sederhana: mimpi-mimpi besar harus berani dimulai.
Di tempat ini, kita mencanangkan harapan. Bukan sekadar
tentang apa yang ingin kita miliki, tetapi tentang perjalanan seperti apa yang
ingin kita jalani. Kita menitipkan mimpi kepada semesta, kepada waktu, dan
terutama kepada Tuhan yang menjadi tempat segala doa bermuara.
Hari itu mungkin hanya sebuah senja.
Namun bagi kita, ia menjadi saksi sebuah tekad.
Lima tahun berlalu. Ketika menoleh ke belakang, ternyata
begitu banyak jalan telah kita lewati. Ada langkah yang mudah, ada jalan yang
berliku. Ada saat ketika keyakinan begitu kuat, tetapi ada pula waktu ketika
kita harus belajar bersabar dan percaya bahwa segala sesuatu memiliki waktunya
sendiri.
Dan hari ini kita mengerti...
Tidak ada perjalanan yang benar-benar sia-sia ketika ia
ditempuh dengan niat yang baik.
Alam semesta seakan menjawab satu demi satu doa yang pernah
kita langitkan. Pintu-pintu terbuka pada waktunya. Pertemuan-pertemuan terjadi
dengan alasan yang mungkin baru kita pahami kemudian. Jalan yang semula
terlihat samar perlahan menemukan arah.
Bukan karena semuanya berjalan sempurna, tetapi karena
setiap langkah ternyata membawa kita semakin dekat kepada tujuan yang telah
kita doakan.
Di pelataran Prambanan itu, lima tahun yang lalu, kita
mungkin hanya sedang bermimpi.
Hari ini, sebagian mimpi itu telah menjadi kenyataan.
Namun perjalanan belum selesai.
Masih panjang jalan yang harus kita tempuh. Masih banyak
mimpi yang harus diperjuangkan. Masih banyak karya yang harus ditorehkan. Dan
masih banyak kebaikan yang harus kita tinggalkan sebagai jejak kehidupan.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang seberapa
tinggi kita mampu mencapai sesuatu, tetapi tentang seberapa banyak manfaat yang
mampu kita berikan sepanjang perjalanan.
Mari terus berproses.
Dengan pengabdian sebagai napas, kebaikan sebagai langkah,
ketulusan sebagai kekuatan, dan doa sebagai cahaya.
Jika lima tahun yang lalu senja di Prambanan menjadi saksi
ketika kita mencanangkan mimpi, maka biarlah hari ini menjadi pengingat bahwa Tuhan
telah membawa kita sejauh ini bukan tanpa alasan.
Percayalah...
Mimpi yang diperjuangkan dengan ketulusan, perjalanan yang
ditempuh dengan kebaikan, dan pengabdian yang dilakukan dengan hati, akan
selalu menemukan jalannya.
Senja itu telah lama berlalu.
Tetapi mimpi yang kita tanam di sana masih hidup.
Dan perjalanan kita...
masih sangat jauh untuk diselesaikan.
Mari melangkah lagi.
Dengan hati yang lebih matang, jiwa yang lebih kuat, dan
keyakinan yang lebih dalam:
Apa yang ditakdirkan untuk kita, akan menemukan jalannya.
Apa yang kita perjuangkan dengan kebaikan, akan menemukan keberkahannya.
Dan apa yang kita lakukan sebagai pengabdian, semoga menjadi jejak yang tetap
hidup jauh setelah langkah kita berhenti.
Lima tahun kemudian, kita kembali menatap senja.
Bukan untuk menghitung apa yang telah hilang,
tetapi untuk mensyukuri betapa indahnya perjalanan yang
telah Tuhan izinkan kita lalui.
Dan untuk kembali berjanji:
Mimpi boleh berubah menjadi kenyataan, tetapi perjalanan
menuju kebaikan tidak boleh pernah berhenti.
Priyana Ginada
Kamis, 20 Agustus 2026