Senin, 06 April 2026

Focus Group Discussion (FGD) Kelas X 1


Selamat berjumpa anak-anak pada pembelajaran PPKN, pada pertemuan kali ini kita akan memasuki Focus Group Discussion (FGD) silahkan anak-anak  menulis di kolom komentar dibawah ini,  memilih satu tema diatas yaitu kasus di kalangan remaja SMA yang sedang marak terjadi pada saat ini tentunya tema dan kasus tersebut ada kaitan dengan permasalahan/materi di pelajaran PPKN yang sedang kita pelajari. Lengkapi nama, kelas dan nomor absen. Tulislah dengan jujur dan sesuaikan dengan materi yang paling anda minati dan sesuai tips Focus Group Discussion (FGD) selamat bekerja & semoga sukses  

37 komentar:

  1. I Made Arkana Pradipta
    9
    X1
    POLARISASI AKIBAT MEDIA SOSIAL

    Menurut saya, polarisasi akibat media sosial memang benar terjadi. Banyak pelajar mudah terpengaruh opini di TikTok, Instagram, dan berita online tanpa cek fakta.
    Hal ini disebabkan algoritma yang hanya menampilkan konten sesuai minat, serta informasi yang sering singkat dan menggiring opini. Akibatnya, pelajar mudah percaya hoaks, diskusi tidak berdasarkan fakta, dan terjadi perpecahan pendapat.
    Jadi, fenomena ini nyata dan perlu diatasi dengan berpikir kritis serta bijak menggunakan media sosial.

    BalasHapus
  2. Nama : Ketut Pitia Puspitasari
    No : 20
    Kelas : X.1
    — Westernisasi berlebihan dan krisis identitas budaya.
    Menurut saya benar pak, karena banyak anak muda jaman sekarang lebih tertarik dengan budaya luar karena lebih modern, kalau budaya kita kebanyakan tradisional yang masih memakai gamelan, kalau budaya luar, sudah mulai memakai alat musik modern seperti gitar, drum, keyboard, banyak yang beranggapan memainkan alat musik modern itu terlihat keren. Banyak yang menyukai lagu luar dikarenakan terkadang lirik lagu itu cukup relate dengan apa yang sedang terjadi pada hidupnya. Tarian juga seperti itu, banyak yang tidak mau menjadi penari tarian tradisional karena dikatakan sulit, entah itu gerakannya harus lues, menjaga ekspresi, kalau tarian luar yang kebanyakan sudah modern, mereka lebih berpatok pada gerakan, jadi mereka hanya perlu fokus pada gerakan mereka.

    BalasHapus
  3. Nama : I Made Rama Aditya Bhaskara
    No : 10
    Kls : X.1

    Saya memilih tema nomor 2.
    Menurut saya, fenomena itu benar, karena banyak sekali pelajar jaman sekarang yang menerima informasi mentah tanpa di analisa, terutama terkait isu keberagaman (suku, agama, dan budaya). Biasanya hal ini disebabkan oleh kebiasaan langsung percaya dan kurangnya latihan berpikir kritis sehari hari sehingga mudah untuk terprovokasi dan mempercayai propaganda yang ada

    Jadi, kemampuan pelajar berpikir secara kritis sangat penting agar pelajar dapat menilai secara objektif

    BalasHapus
  4. Nama : Indy Indrayanti
    No : 28
    Kelas : X.1
    1. Polarisasi akibat media sosial.
    Ini menurut saya benar, karena pelajar di zaman sekarang sangat mudah terpengaruh oleh sosial media tanpa harus mengecek kembali informasi tersebut, dari hal itu muncul lah dampak negatifnya, contohnya saat kita menemukan informasi yang kita anggap benar namun sebenarnya adalah informasi negatif atau hoax kita menganggapnya itu hal yang positif dan fakta yang dimana hal ini dapat mengakibatkan terjadinya konflik mengenai informasi tersebut karena kita tidak mengecek kembali informasi yang telah kita dapat. Permasalahan ini berkaitan dengan Nilai persatuan namun, dengan peristiwa tersebut justru membuat berkurangnya nilai persatuan Indonesia.

    BalasHapus
  5. Permasalahan yang saya ambil polarisasi akibat media sosial.
    Jaman sekarang kita bisa bebas untuk mengakses internet, terutama media sosial. Banyak berita yang beredar di media sosial, belum tentu itu benar atau salah. Di media sosial kita bebas untuk memberi opini, jadi jika remaja yang minim pengetahuan tentang beropini, akan terjerumus ke opini yang kurang baik dan jadi bisa mendukung yang salah. Dan bisa menimbulkan konflik, jadi sebaiknya kita memberi edukasi tentang bermedia sosial dan berliterasi digital. Agar tidak menimbulkan perpecahan.
    Gwen/30/X.1

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Nama: Lina
    Absen:35

    • Topik 2
    Di kalangan pelajar isu keberagaman sering terjadi. Banyaknya perbedaan yang ada antar siswa seringkali dipandang sebagai suatu masalah akibat kurangnya kemampuan berpikir kritis terhadap isu keberagaman. Perbedaan sering dianggap sebagai "tembok pembatas" antar individu dalam 1 ciri tertentu. Contohnya suku dan agama seseorang, dalam pemikiran sempit hal ini dianggap sebagai perbedaan negatif, karena kebiasaan, rutinitas keagamaan, dan ciri fisik mereka berbeda dari yang lainnya. Tak hanya itu faktor ekonomi dan perbedaan kelas sosial juga mempengaruhi lingkungan pertemanan akibat kurangnya kesadaran antar perbedaan kemampuan seseorang secara ekonomi. Kurangnya kesadaran tentang keberagaman juga dapat memicu intoleransi dan perpecahan, hingga kasus bullying. Maka dari itu dibutuhkan kemampuan berpikir kritis agar kita dapat mengambil suatu keputusan secara objektif dan logis, bahwa perbedaan bukanlah suatu penghalang dalam pertemanan.

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. Cantika Nanda (24_X1)
    Saya memilih analisis masalah polarisasi akibat media sosial di kalangan pelajar.
    Saya setuju bahwa media sosial sering memicu perpecahan di kalangan pelajar karena banyak yang mudah percaya opini viral tanpa mengecek kebenarannya. Hal ini membuat kita gampang bertengkar hanya karena beda pendapat.
    Contohnya, perselisihan kecil antar teman sering membesar karena saling sindir di story medsos. Teman lain yang tidak tahu masalah aslinya jadi ikut-ikutan memihak, sehingga muncul kelompok yang saling bermusuhan dan merusak kerukunan di sekolah.

    BalasHapus
  10. menurut saya, polarisasi akibat sosial media benar sedang terjadi oleh masyarakat Indonesia, banyak oknum yang melihat berita di sosial media dan gampang terpengaruh oleh berita yang ada di sosial media, hal itu dapat menyebabkan adanya kelompok - kelompok tertentu yang muncul karena adanya perbedaan pendapat dari berita tersebut.
    Dayu Bulan/13/X1

    BalasHapus
  11. Saya mengambil Kurangnya Kemampuan Berpikir Kritis Terhadap Isu Keberagaman. Menurut saya, tema ini adalah salah satu tema yang sering terjadi pada remaja dimana banyak sekali remaja yang biasanya mudah terpengaruh dengan cepat tanpa mengetahui kebenarannya. Salah satunya seperti menggunakan anak remaja untuk melakukan hal yang tidak seharusnya karena anak remaja biasanya masih memiliki emosi yang labil sehingga sangat mudah terjerumus.
    Navira/36/X1

    BalasHapus
  12. Nama: Cokorda Istri Kirana Maharani Pemayun
    No: 2
    kls: X1

    permasalahan yang saya ambil adalah polarisasi akibat media sosial:

    menurut saya polarisasi media sosial di kalangan pelajar bisa terjadi karena para pelajar tidak bisa menggunakann media sosial dengan benar, jadi pelajar dengan mudah terpengaruh oleh isu isu yang mungkin saja itu tidak benar, karena kebanyakan para pelajar menggunakan media sosial dengan cara yang salahh, contoh nya seperti berkomentar jahat pada konten konten atau berita yang belum tentu berita tersebut itu benarr. kebanyakan dari para pelajar masih belum bisa menyaring informasi dengan baik dan masih percaya dengan isu isu yang langsung di beredarkan tanpa tau isu tersebut benar atau tidakk. hal ini menimbulkan perpecahan dan berkurangnya nilai persatuan seperti bhineka tunggal ika.

    BalasHapus
  13. Ni Kadek Liliana Pramesti/26/X1
    Tema : aktivitas digital yang dangkal ("slacktivism")
    - banyak pelajar ikut kampanye keberagaman atau toleransi hanya sebatas sekedar repost atau ikut tren
    Menurut saya banyak orang yang ikut-ikutan untuk kampanye toleransi untuk sekedar repost karena FOMO (Fear Of Missing Out). Pengaruh media sosial yang membuat mereka menunjukan kehidupan terbaik seperti ikut menyuarakan tentang toleransi. Namun menurut saya ini bukanlah selalu hal buruk, karena walaupun mereka hanya sekedar repost tapi itu bisa berdampak, karena media sosial itu terhubung ke seluruh dunia, walaupun hanya sekedar repost tapi informasinya bisa ke seluruh dunia dan lebih cepat menyebar. Tapi ada juga dampak buruknya, banyak orang yang hanya ikut-ikutan repost tanpa tau isi postingannya agar mereka terlihat peduli dengan toleransi tersebut. Justru hal seperti ini jangan langsung kita "judge" tapi ajak dia menyelam lebih dalam, bukannya malah menghakimi.

    BalasHapus

  14. Konflik identitas dalam pergaulan terhadap pelajar . Contohnya seperti pada nomer 5, saat pelajar sedang kebingungan saat menentukan jati diri karena adanya pengaruh dari pergaulan, teman sebaya, atau media sosial.
    1. Isu-isu yang sering terjadi
    Tekanan teman seumuran untuk mengikuti sifat yang menurut mereka itu keren
    Pergaulan bebas dari teman ke teman atau kenakalan remaja agar dianggap keren atau diterima kelompok.
    2. Cara mengatasi
    Memilih teman yang dapat memberi pengaruh positif.
    Berani menolak ajakan yang tidak baik.

    BalasHapus
  15. Polarisasi akibat media sosial adalah perbedaan pendapat tajam karena pengaruh informasi di media sosial.
    Pelajar melihat video di TikTok tentang isu budaya tertentu, lalu langsung percaya dan menyebarkan tanpa mencari sumber lain, sehingga terjadi perdebatan di sekolah.
    Wulan/38/X1

    BalasHapus
  16. Nama: Ni Kadek Kirana Nariswari
    No/Kelas: 25/X1

    Polarisasi Akibat Media Sosial
    Berita palsu menyebar cepat karena sering kali dirancang untuk memicu emosi (kemarahan atau ketakutan). contoh nya dijaman sekarang banyak yg menyalahgubakan penggunaan visual manipulatif seperti konten Ai yg membuat konteks video yg salah atau dibuat seolah” nyata dan di upload dimedia sosial seperti Instagram, Tiktok maupun Reels.
    dampak: keaslian konten video Ai menjadi sulit dipastikan, yang dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap informasi visual. seperti yg kita ketahuin jaman sekarang banyak anak’ di bawah umur yg sudah mengenal media sosial, ini dapat mempengaruhi pikiran mereka karna dapat memanipulatif dan merugikan, termasuk penipuan, konten pornografi, dan pelecehan seksual.
    cara mengatasi: waspada dan mencari tahu terlebih dahulu berita yg fakta agar tidak salah menyebarkan informasi.

    BalasHapus
  17. Ni Kadek Puspita Maharani/27/X.1

    Polarisasi akibat media sosial memang benar adanya dan dapat saya rasakan secara nyata. Kita dapat melihat bagaimana seseorang melalui algoritma konten yang ditampilkan di media sosialnya, karena algoritma tersebut diatur berdasarkan reaksi kita terhadap suatu postingan. Jika kita menyimak, mendalami, atau menyukai postingan tersebut, maka akan semakin banyak postingan serupa yang ditampilkan.

    Semakin sering kita melihatnya, kita juga dapat terpengaruh oleh isi postingan tersebut. Contohnya, ketika terus-menerus melihat postingan mengenai netizen Indonesia yang berseteru dengan netizen Korea beberapa waktu lalu, saya mengakui bahwa saya menyimak postingan tersebut. Saya juga merasakan bahwa pandangan saya terhadap netizen Korea perlahan memburuk selama saya terus mengikuti perseteruan tersebut.

    Hingga akhirnya saya menyadari bahwa saya tidak boleh terbawa arus seperti itu. Tidak semua perbuatan netizen Indonesia benar, begitu pula tidak semua netizen Korea salah. Jadi, solusi terhadap polarisasi akibat media sosial ini ada pada diri kita sendiri, yaitu bagaimana kita mengelola isi media sosial agar tidak memengaruhi diri secara negatif, serta memperbanyak konten-konten positif.

    Sekian dari saya, terima kasih 🙏🏻

    BalasHapus
  18. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  19. Ni Nyoman Dyah Satyawati (31)

    POLARISASI AKIBAT MEDIA SOSIAL

    Menurut saya fenomena ini benar, karena pelajar saat ini banyak menggunakan media sosial seperti tiktok, instagram dan twitter untuk mendapatkan sebuah informasi. Tetapi sering kali informasi yang didapatkan tidak dicek lebih detail kebenarannya, akibatnya bisa menimbulkan konflik contohnya seperti saling berdebat di komentar karena beda pendapat dan sikap saling menghargai jadi berkurang.

    BalasHapus
  20. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  21. Anthanbita (X1/01)
    "Kurangnya kemampuan berpikir kritis terhadap isu keberagaman"

    Saya setuju bahwa masih banyak pelajar yang menerima informasi mentah tanpa analisis, termasuk saya yang masih mudah percaya dengan informasi mentah yang sering berkeliaran di sosial media. Dengan itu saya menyetujui bahwa pelajar masih kurang berpikir kritis karena setelah mendapatkan informasi mentah, terkadang kita terlalu cuek sehingga tidak dapat berpikir kritis dan tidak mencari kebenaran nya. Yang akhirnya hal itu membuat kita dengan mudah percaya dengan informasi informasi mentah yang berkeliaran.

    BalasHapus
  22. Nama : ketut Apriliana Dini Kirana
    No : 19
    Kelas : X.1
    2.Kurangnya kemampuan berpikir kritis terhadap isu keberagaman.

    Menurut saya kenapa masi banyak pelajar yang kemampuan berpikir kritis nya masi kurang terhadap isu keberagaman? karena pelajar masi banyak yang mudah percaya dengan hoaks atau menerima informasi mentah tanpa mengecek kebenarannya.

    BalasHapus
  23. Putu Satnam Jyotisar Patrika
    37/X.1
    Menurut saya, masalah masalah yang dicantumkan di atas sangatlah benar. Contohnya pada poin nomor 3 yang mengatakan "westernisasi berlebihan dan krisis budaya" dikarenakan anak anak muda jaman sekarang, lebih mengikuti gaya hidup atau trend barat atau luar tanpa melihat baik atau buruknya hal tersebut, bahkan saking parahnya hal ini terjadi, identitas bangsa kita sendiri bahkan sudah mulai memudar. Menurut pendapat saya, hal hal ini disebabkan oleh maraknya penggunaan media sosial tanpa sosialisasi menyeluruh kepada seluruh penggunanya, yang menyebabkan rata rata pengguna media sosial saat ini tidak memilah informasi dan memeriksa keaslian informasi tersebut. Solusi dari permasalahan tersebut, kita bisa membuat sosialisasi yang dibungkus dengan event menarik seperti event yang telah saya rancang "Sehari Jadi Orang Bali Asli". Biasanya, event hanya memilih satu bentuk kegiatan, seperti luring atau daring. Namun menurut saya, saya ingin membuat event yang mencakup ke dua itu, kita bisa membuat kegiatan lapangan seperti permainan tradisional, makanan khas, kultur budaya, dan mungkin bisa ditampilkan pementasan yang mengambil tema tema Budaya. Mungkin salah satu ide menarik yang pernah saya pikirkan adalah Kolaborasi Baleganjur dengan Orchestra, mungkin masih ada unsur westernisasinya. Tapi itu adalah salah satu langkah yang sangat ampuh untuk mengurangi efek westernisasi sembari menyebarluaskan budaya lokal kita. Dan mungkin juga bisa menyebarluaskan menggunakan media sosial, dengan cara membuat akun khusus event tersebut dengan mengunggah kegiatan kegiatan yang diselenggarakan serta menjadikan media sosial sebagai media promosi.

    BalasHapus
  24. Nama : Yosi
    Absen : 22

    Topik 1 :
    Memang banyak sekali pelajar yang mempercayai informasi yang ada di media sosial tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu. Menurut saya ini terjadi karna perbedaan pandangan atau pendapat antar siswa. akibat nya mereka akan membentuk kelompok” dengan pendapat atau pandangan yang berbeda. Cara mengatasi nya menurut saya yaitu lakukan pengecekan fakta terlebih dahulu dan menggunakan media sosial dengan bijak agar diskusi publik menjadi sehat.

    BalasHapus
  25. Agus/6/X1
    1.polarisasi akibat media sosal,jadi bab ini Poin 1 menjelaskan bahwa media sosial membuat pelajar hanya melihat opini yang sejalan (echo chamber), sehingga pola pikir jadi sempit dan kurang terbuka terhadap perbedaan. Akibatnya, sikap toleransi menurun dan ini bertentangan dengan nilai Bhinneka Tunggal Ika yang menekankan saling menghargai keberagaman.
    contoh sehari hari :
    misalnya, seorang pelajar sering melihat konten di TikTok yang mendukung satu pendapat saja. Lama-lama dia menganggap pendapat lain itu salah, lalu saat ada teman yang berbeda pendapat, dia jadi mudah berdebat atau bahkan mengejek.
    1.polarisasi akibat media sosal,jadi bab ini Poin 1 menjelaskan bahwa media sosial membuat pelajar hanya melihat opini yang sejalan (echo chamber), sehingga pola pikir jadi sempit dan kurang terbuka terhadap perbedaan. Akibatnya, sikap toleransi menurun dan ini bertentangan dengan nilai Bhinneka Tunggal Ika yang menekankan saling menghargai keberagaman.
    contoh sehari hari :
    misalnya, seorang pelajar sering melihat konten di TikTok yang mendukung satu pendapat saja. Lama lama dia menganggap pendapat lain itu salah, lalu saat ada teman yang berbeda pendapat, dia jadi mudah berdebat atau bahkan mengejek.untuk mengatasinya, kita harus lebih bijak dalam menggunakan media sosial, seperti mencari informasi dari berbagai sumber, tidak langsung percaya pada satu opini, serta tetap menghargai pendapat orang lain.

    BalasHapus
  26. I Kadek Ade Nathan Mahendra/X1/5

    Polarisasi di medsos bikin pelajar cuma lihat satu sudut pandang. Jadi susah nerima pendapat orang lain. Ini nggak sesuai sama nilai Bhinneka Tunggal Ika. Ditambah lagi, pengaruh luar negeri masuk terus, kadang langsung dipercaya tanpa dipikir. Jadi solusinya itu kita bisa,
    Biasakan cek info dari beberapa sumber (jangan cuma 1 konten doang)
    Jangan langsung percaya atau share sebelum mikir
    Hargai pendapat orang lain walaupun beda (sesuai Bhinneka Tunggal Ika)

    BalasHapus
  27. NAMA : IPUTU KUSUMA DHARMA PUTRA
    ABSEN : 12
    KELAS : X1

    Aktivisme digital yang dangkal atau slacktivism (gabungan dari kata slacker dan activism) adalah fenomena di mana pelajar ikut serta dalam gerakan sosial atau kampanye keberagaman hanya melalui tindakan yang membutuhkan usaha minimal di media sosial.

    Masalah utama yang di hadapi :
    1) Banyak yang melakukan agar terlihat perduli atau lebih tepatnya hanya ikut ikutan karna trend

    2) Banyak pelajar sering kali tidak memahami akar permasalahan atau tujuan dari kampanye

    Cara Penyelesaian :
    1) Literasi dan edukas, sebelum merepost suatu konten pelajar harus membiasakan diri untuk membaca latar belakang konten

    2) Dengan aksi nyata (offline)
    Menindaklanjuti dukungan digital dengan tindakan konkret, seperti mengikuti diskusi komunitas,menjadi rewalan,dan lainnya.

    BalasHapus

  28. 2.Kurangnya kemampuan berpikir kritis terhadap isu keberagamaan (hoaks, atau konten provokatif)
    Saya memilih materi ini karena banyak orang yang termakan isu hoaks/provokatif dikarenakan banyak dari mereka yang tidak mengecek terlebih dahulu.

    Solusi :
    Kita tidak boleh langsung percaya dengan info yang beredar, kita mungkin bisa mengecek apakah info yang beredar ini benar atau tidak

    Contoh sehari-hari:
    Terdapat berita yang berisi suatu suku/agama melakukan hal buruk tapi kita tidak langsung percaya dengan beritanya atau langsung menyebarkannya tetapi kita bisa mencari kebenerannya terlebih dahulu.

    BalasHapus
  29. NAMA : IDA BAGUS GEDE INDRA ATMAJA
    ABSEN : 14
    KELAS : X.1

    1. Masalah yang Dihadapi

    Masalah utamanya adalah rendahnya daya saring pelajar terhadap informasi yang mereka terima. Di era digital, pelajar sering kali:

    Menerima informasi mentah-mentah: Langsung memercayai apa yang dibaca di media sosial tanpa melakukan verifikasi (cross-check).

    Terjebak Hoaks dan Propaganda: Menjadi sasaran empuk konten provokatif yang sengaja dibuat untuk memecah belah persatuan atau menyudutkan kelompok tertentu (SARA).

    Gagal Analisis: Tidak mampu membedakan antara opini subjektif yang mengandung kebencian dengan fakta yang objektif.

    2. Cara Penyelesaiannya

    Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan dari sisi literasi dan sikap mental:

    Penerapan Literasi Digital: Pelajar harus dibiasakan untuk selalu mengecek sumber berita (apakah kredibel atau tidak) sebelum menyebarkannya. Gunakan prinsip "Saring sebelum Sharing".

    Mengembangkan Budaya "Tabayyun" (Verifikasi): Mendorong kebiasaan bertanya dan mencari bukti pendukung ketika menerima isu sensitif mengenai keberagaman.

    Pendidikan Karakter & Diskusi Terbuka: Di sekolah, guru perlu memfasilitasi diskusi mengenai isu-isu keberagaman dari berbagai perspektif agar pelajar terbiasa melihat suatu masalah tidak hanya dari satu sisi.

    Melatih Logika Berpikir: Mengajarkan cara mengidentifikasi logical fallacy (kesalahan logika) dalam konten-konten provokatif agar tidak mudah terhasut oleh emosi sesaat.

    BalasHapus
  30. Ni Putu Dewi Sri Haniva
    33
    X.1
    — Polarisasi akibat media sosial
    kasus : pelajar mudah terpengaruh oleh opini di platform seperti tiktok atau instagram tanpa mengecek kebenaran informasi.
    — Menurut saya bener sih, terkadang kita khususnya pelajar memang mudah menyimpulkan atau percaya bahwa informasi terutama dimedsos yang cepat nyebar, apalagi di platform seperti tiktok, kita bisa langsung mencari kasus yang berkaitan, dan kita bisa melihat berbagai banyaknya komentar yang berbeda pendapatnya, hal itu justru buat kita bingung mau percaya komentar yang mana atau lebih tepatnya bingung.
    Jadi saran, jangan terlalu cepat percaya atau ikut campur dalam berkomentar padahal sebenarnya kita belum mengetahui fakta yang sebenarnya. Lebih baik menunggu dari pihak yang bersangkutan untuk mengetahui sebenarnya, agar tidak terjadi salah paham.

    BalasHapus
  31. Nama : Ni Putu Anggun Sanisca Rahayu
    No : 32
    Permasalahan : Westernisasi Berlebih dan Krisis Identitas Budaya

    Menurut saya, peristiwa westernisasi berlebih ini seringkali terjadi di kalangan anak muda atau remaja di zaman digital ini. Westernisasi berlebihan muncul ketika remaja atau anak muda terlalu banyak meniru budaya barat tanpa menyaringnya. Akibat dari hal ini, terjadilah peristiwa krisis identitas budaya yang dimana hilangnya rasa bangga terhadap budaya kita sendiri. Namun perlu diketahui bahwa pengaruh budaya luar ini tidak sepenuhnya buruk karena kita tetap bisa belajar hal-hal positif dari budaya luar. Sebenarnya masalah utamanya bukan pada budaya Barat itu sendiri, tetapi pada cara generasi muda menyikapinya. Jika semua ditiru tanpa dipikirkan, maka nilai-nilai Pancasila bisa tergeser dan perlahan-lahan dilupakan oleh generasi muda. Padahal, budaya Indonesia memiliki keunikan yang seharusnya dijaga dan dibanggakan sesuai dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Peristiwa westernisasi berlebihan ini juga dapat terjadi karena kuatnya pengaruh media sosial dan globalisasi yang membuat budaya asing lebih mudah diakses dan ditiru. Apalagi jika lingkungan pergaulan seorang remaja lebih mengagungkan budaya asing dibanding budaya lokal. Hal ini semua dapat turut memperkuat kondisi krisis identitas budaya. Oleh karena itu, untuk mengatasinya, pelajar perlu menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya Indonesia, misalnya dengan memakai batik atau mempelajari tarian daerah. Selain itu, budaya asing sebaiknya disikapi secara selektif, yaitu hanya mengambil hal-hal yang positif. Pendidikan karakter dan budaya di sekolah juga harus diperkuat agar generasi muda atau remaja zaman sekarang lebih memahami jati diri bangsa. Pelajar juga perlu aktif dalam kegiatan budaya lokal agar nilai-nilai seperti Bhinneka Tunggal Ika tetap terjaga dan tidak hilang.

    BalasHapus
  32. menurut saya seorang pelajar melihat video yg ada di TikTok yang mengatakan suatu kelompok itu “buruk”.
    Tanpa mengecek kebenaran, dia langsung percaya dan ikut menyebarkan ke hal" aplikasi media sosial.
    Akibatnya, teman-temannya terbagi jadi dua kubu dan saling berdebat (terjadi polarisasi).
    Ketut putra jaya/7/X.1

    BalasHapus
  33. Point No 6 Aktivisme digital yang dangkal
    Keinan Bagus Juliarta Putra
    18
    X.1

    Banyak anak muda di sosial media yang mengikuti berbagai gerakan di media sosial hanya untuk tren, atau bisa dibilang FOMO (Fear of Missing Out), bahkan mereka dibayar untuk memposting story/foto tentang gerakan tersebut. Mereka tidak peduli dengan tujuan utama dari gerakan tersebut karena mereka dibutakan oleh uang dan mencari perhatian.
    Contohnya disaat terjadinya perang antara Palestina Dan Israel banyak pelajar yang meneruskan beruta hoax tanpa memastikan beruta yang sebenarnya jadi banyak orang yang termakan beruta hoax tersebut. Bagaimana kita mengatasi masalah tersebut? kita bisa meningkatkan literasi digital dan kritis, serta mengajak pelajar memahami latar belakang dan kompleksitas isu sebelum membagikan postingan.

    BalasHapus
  34. Point 1. Polarisasi Akibat Media Sosial

    Polarisasi akibat media sosial menjadi permasalahan yang serius dikalangan pelajar. Media sosial seperti Tiktok dan Instagram menyajikan informasi yang menarik dan cepat, sehingga pelajar yang yang merupakan kalangan anak muda yang sering menggunakan media sosial dan masih sulit membedakan mana baik dan buruk, seringkali langsung percaya tanpa mengecek kebenarannya. Ditambah adanya sistem algoritma media sosial yang hanya menampilkan konten-konten yang sering kita tonton atau sukai, sehingga pelajar hanya melihat satu sudut pandang dan akhirnya terjadi polarisasi, yaitu perpecahan pendapat karena merasa paling benar.
    Contohnya saat ada isu politik atau artis banyak pelajar langsung memihak setelah menonton satu atau dua video, lalu berkomentar dan menyebarkannya tanpa tahu fakta sebenarnya. Akibatnya media sosial menjadi tempat pertengkaran dan penyebaran berita palsu
    Solusinya, pelajar harus membiasakan diri untuk mengecek serta meningkatan literasi digital. Dengan demikian, media sosial dapat digunakan secara bijak dan tidak menimbulkan polarisasi berlebihan

    BalasHapus
  35. Natya/8/X1
    1. Polarisasi Akibat Media sosial
    Contoh: jaman sekarang banyak anak muda yang ingin hidup bergaya mewah tetapi tidak sesuai dengan kemampuan nya, terlebih banyak yang mengutamakan gengsi/gaya hidup nya ketimbang keperluan nya yang lebih penting, Debat di kolom komentar/saling menyerang satu sama lain, gampang mempercayai berita/informasi dari orang lain

    Penanggulangannya: Dengan cara mengelola keuangan secara baik, menahan nafsu/mengendalikan diri sendiri dalam memenuhi keinginan yang tidak penting. Lebih baik diam/berkomentar yang baik bukannya ikut menyerang
    Mencari terlebih dahulu kebenaran dari informasi tersebut sebelum mencernanya lebih dalam.



    BalasHapus
  36. Nama: Anak Agung Ayu Bintang Prema Natania
    No : 1
    Kelas: X5
    Point 1. Polarisasi Akibat Media Sosial
    Permasalahan:
    Menurut saya, Polarisasi akibat media sosial berdampak sangat banyak bagi kalangan anak muda, contohnya anak muda jaman sekarang mudah terpengaruh oleh media sosial dengan opini yang belum tentu benar.

    Penanggulannya:
    Dengan cara bijak dalam menggunakan media sosial, mencari tau kebenerannya terlebih dahulu.

    BalasHapus